Minggu, 08 November 2009

Berawal dari kabar berita kematian pengusaha Nazirudin yang diduga akibat cinta segitiga yang berakhir dengan pembunuhan yang dikatakan adanya keikut sertaan ketua KPK sebelumnya yaitu Antasari Azhar. Lalu muncul slogan CICAK vs BUAYA. Sekarang kasus pemutaran rekaman pembicaraan Anggodo Widjaja dan sejumlah oknum pejabat di Mahkamah Konstitusi (MK) pada selasa 3 November 2009 yang mengarah pada konspirasi untuk mengkriminalisasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Sehigga pada akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentukan Tim Delapan yang dinakhodai oleh Adnan Buyung Nasution. Seperti yang kita ketahui dari berbagai media bahwa tugas tim ini memverifikasi fakta dan proses hokum yang terkait dengan Bibit-Chandra, menampung unek-unek masyarakat, dan memberi rekomendasi kepada Presiden setelah bekerja dua minggu.

Olahragawan dan penulis Inggris (1780-1832) Charles Caleb Colton

mengatakan “Korupsi itu seperti bola salju, sekali dilakukan akan terus membesar dan membesar”.

Bisa kita lihat bahwa kasus terhangat yang terjadi di Indonesia saat ini memang berkembang luas seperti bola salju, saling menjatuhkan, saling menuduh, saling menciptakan kontroversi baru yang saya pikir hal itu hanya untuk mencari sensasi serta mendapat simpati dari masyarakat. Bagaimana tidak, mereka tidak menggambarkan sikap kerjasama untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya, yang ada hanya menambah pihak baru, membuat cerita baru, dan melindungi orang-orang terkait yang memang benar-benar ada dibalik peristiwa. Padahal dari seluruh masyarakat yang ada di Indonesia mungkin hanya 45 % yang ingin tahu perkembangannya. Dan yang lain tidak ada waktu untuk melihat tingkah yang mereka buat itu, karena masyarakat sudah cukup sibuk untuk mencari cara agar bisa bertahan hidup. Meski pun mengikuti perkembangan kasus namun masyarakat berpikir tidak menguntungkan baginya, karena jika kasus tersebut terungkap pun tidak akan mengubah kehidupan masyarakat.

Penyelesaian yang diambil terlalu lamban, karena untuk menelusuri bukti yang ada tidak terdapat dukungan antara pihak presiden, pihak kepolisian, para pejabat di Kejaksaan Agung, serta pihak ketiga di MK. Ini menciptakan kejanggalan tersendiri di hati masyarakat dan membuat semua orang berpikir jika memang ada suatu ‘permainan’ yang mengatasnamakan hukum dan keadilan diantara mereka semua. Sungguh terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan kasus yang masyarakat buat.

Seharusnya dari mereka itu ada yang menjadi pelopor dan berani mati demi mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, bukan malah menambah episode baru. Ini sangat meresahkan masyarakat karena tidak adanya kepastian hukum tapi malah menawarkan ‘musuh bersama’.

Yah…kita lihat saja bagaimana selanjutnya,apakah mampu diselesaikan dalam waktu dua minggu atau malah muncul episode baru. Kita percaya dan mendukung apa yang dilakukan Presiden saat ini, jika memang dapat mengunkapkan kebenaran yang sesungguhnya. Dan tidak memperlihatkan adanya permainan hukum diantara kalian.

0 komentar:

Poskan Komentar