Jumat, 19 Februari 2010

okezone.com

PORT AU PRINCE - Perdana Menteri (PM) Haiti Jean Max Bellerive, mengaku khawatir jika Pemerintahan Haiti terancam hancur akibat tuduhan pihak oposisi, yang menilai pemerintah saat ini tidak mampu mengatasi bencana gempa Haiti.

PM Bellerive yang lebih sering muncul di muka publik pascagempa dahsyat 12 Januari lalu dibandingkan Presiden Rena Preval, mengkhawatirkan dua hal penting yang dihadapi Haiti.

Hal pertama adalah yang dikhawatirkan oleh PM Bellerive adalah kondisi sekira 1,2 juta rakyat Haiti yang hidup dijalanan menjelang musim hujan, yang sebentar lagi melanda Haiti. Tetapi yang membuat Bellerive menahan nafasnya adalah kondisi politik di negara Kepulauan Karibia tersebut pascagempa berkekuatan tujuh skala richter.

"Kini pemerintah (Haiti) berusaha melakukan segala cara untuk menyelamatkan rakyat. Sementara beberapa pihak lain menuduh jika pemerintah tidak melakukan apapun," ungkap Bellerive seperti dikutip Associated Press, Jumat (19/2/2010).

"Beberapa pihak mencoba untuk menciptakan konflik disaat Haiti kali ini memiliki musuh yang sama, yakni kemelaratan serta bencana," Bellerive menambahkan.

Bellerive baru menjabat sebagai Perdana Menteri Haiti selama dua bulan saat bencana gempa melanda negara tersebut. Ia mengerti kritikan jika para pemimpin Haiti tidak melakukan upaya cukup untuk membantu rakyatnya, saat gempa yang menewaskan sekira 200 ribu rakyat Haiti melanda.

"Karena kami tidak menjalankan pemerintahan sebagaimana mestinya untuk melayani rakyat saat bencana terjadi. Jadi banyak pihak menyatakan tidak ada pemerintahan di Haiti," ungkap Bellerive.

Bellerive mengaku, jika dirinya berjuang untuk mencari solusi bagi rakyat Haiti yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa 12 Januari lalu. Terlebih dengan ancaman musim hujan yang diperkirakan akan turun deras dan dapat menyebabkan longsor serta banjir. Dua bencana ini memang seringkali memakan korban di Haiti.

Usai kondisi alam, Bellerive akan segera dipusingkan oleh rencana beberapa pihak untuk merombak konstitusi di negara termiskin di benua Amerika tersebut. Menurutnya, di negara di mana transisi politik seringkali berakhir rusuh seperti Haiti, dapat membuka peluang bagi rival politiknya untuk memicu kerusuhan. (faj)(rhs)

0 komentar:

Poskan Komentar