Minggu, 25 Oktober 2009

Kemarin saya baca di harian SINDO yang terbit pada hari Rabu, 7 Oktober 2009. di dalam harian tersebut dituliskan bahwa

“Perkonomian Indonesia dinilai masih rapuh semenjak diterpa krisis moneter tahun 1998 silam. Kondisi yang baik selama krisis moneter global saat ini dipandang sebagai keberuntungan.”

Saya sangat setuju pada kalimat pertama namun jika saat ini hanya dipandang sebagai “keberuntungan” itu tidak juga. Mengapa? Ya mungkin karena Indonesia dari dulu sudah di bilang kurang ”aktif” jadi apa yang dilakukan Negara kita pasto hanya dipandang sebagai “keberuntungan” semata.

Lalu dalam harian sindo tersebut juga ada Ekonom UI Faisal Basri yang menyatakan,

“ Perekonomian Indonesia bisa selamat lantaran kalangan perbankan belum sempat menyimpan subprime mortgage (kredit beresiko tinggi) lalu daya saing saing ekspor kita juga lemah”. Menurut dia, kenaikan daya saing global perekonomian Indonesia seperti yang dilaporkan Lembaga bisnis asal Swiss, pada Juni lalu. Dari urutan 51-42, lebih disebabkan negara-negara lain mengalami keterpurukan. Hal itu kata dia bukan merupakan kinerja pemerintah. Di samping itu, mayoritas penduduk belum sejahtera dan kemiskinan masih memprihatinkan”.


dari pernyataan Ekonom UI Faisal Basri menurut saya ada benarnya juga jika Perekonomian Indonesia saat ini hanya “keberuntungan” saja. Bisa kita lihat dari alasan-alasan yang di kemukakan oleh Faisal Basri diatas serta karena naiknya harga minyak dunia kemarin. Apalagi kenyataanya memang penduduk Indonesia saat ini belum sejahtera dan kemiskinan masih memprihatinkan. Bahkan kalau saya lihat sepertinya saat ini kemiskinan Indonesia makin meningkat, karena semakin banyak pengangguran yang disebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan adan usia pekerjaan. Hal ini disebabkan oleh sistem perusahaan yang berubah menjadi sistem kontrak. Sebenarnya sya sangat setuju dengan adanya sistem kontrak itu sebab dengan cara itu perusahaan dapat mencari dam benar-banar menyaring tenaga kerja yang berkualitas. Namun jika melihat kondisi Indonesia saat ini seharusnya system itu jang di gunakan untuk semua perusahaan berbagai bidang. Sebab ini sangat membuat masyarakat SHOCK dan mempengaruhi kinerjanya. Karena seperti kalimat “siapa cepat dia dapat”, sebab yang memang berguna ia di ambil perusahaan sedang yang tidak dibuang begitu saja. Ini membuat masayarakat menjadi tidak percaya diri sehingga membuat mereka menjadi stress mendadak. Karena banyak dari mereka yang menjadi tulang punggung untuk menghidupi 5 anaknya yang belum bekerja, 3 anaknya yang masi kecil, istri atau suaminya yang depresi, uang sekolah yang menunggak 2 tahun, dan sebaginya. Seharusnya hal-hal seperti ini dipikirkan terlebih dahulu oleh pemerintah dan perusahaan jika memang mereka care pada masyarakatnya. Hal itu sangat bertolak belakang dengan yang terjadi kalangan atas seperti anggota DPR (sangat sering mereka mendapat komentar dari masyarakt) yang semakin banyak fasilitas yang diberikan padahal seharusya mereka yang memberi fasilitas untuk rakyat bukan rakyat memberi fasilitas untuk mereka. Dan kembali pada topik “Bagaimana Perkonomian Indonesia sekarang”, walau masih dibilang “rapuh” dan “keberuntungan” tapi saya melihat pada krisis global yang terjadi tahun-tahun ini Pemerintah Indonesia sudah sangat mandiri, seperti salah satunya adanya penerbitan ORI, dan berbagai penghargaan atau pendapat dari negara lain.

Untuk itu ada baiknya antara pemerintah dan masyarakat bekerja sama. Kita dukung apapun yang dilakukan pemerintah jika memang itu membuat Negara kita maju. Dan sebagai generasi yang akan melanjutkan Negara ini seharusnya dapat membantu memberikan saran dan ikut andil dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik.

0 komentar:

Poskan Komentar